Ringkasan Khotbah

Latar belakang dan Konteks:
a. Kitab Maleakhi ini ditulis oleh nabi Maleakhi sekitar 430-420 SM setelah Yehuda kembali dari pembuangan, diperkirakan sezaman dgn nabi Nehemia.
Setelah bangsa ini kembali ke tanahnya, mereka merasa sudah aman dan terlindung akhirnya terlena dan melakukan penyimpangan rohani.
Karena itu, di tengah imam dan umat mulai terjadi berbagai penyelewengan, baik
dalam hal agama maupun dalam hal kehidupan keluarga.
Karena itu, berlakulah prinisp Firman, Amsal 4:23 “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan karena dari situlah terpancar kehidupan.”
Penerapan:
Hal seperti ini sering sekali mengancam setiap orang beriman bahwa setelah ia tinggal dalam zona nyaman, aman maka terkadang hati menjadi kendor dari semangat dan kesetiaan kepada Tuhan.
Sikapnya/kesetiaannya berbeda dengan ketika ia masih dalam pergumulan/ persoalan.
b. Para Imam sudah menyimpang dari kekudusan pelayanan (2:1,8).
Kedua konteks ini memberi pelajaran kepada kita agar kita belajar menghidupi panggilan kita sebagai umat Allah dengan tetap waspada di tengah berbagai perubahan zaman sehingga kita tetap setia dan memuliakan nama Tuhan.
Setiap pekerjaan Allah di tengah umat-Nya, selalu memiliki tujuan.
– Kejadian 1:26 “Berfirmanlah Allah: “Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.
Sejak awal telah ditetapkan Allah bahwa manusia itu berkuasa atas isi bumi. Bukan sebaliknya. Karena itu, manusia perlu memikirkan secara sungguh, apakah kita berkuasa atau dikuasai oleh isi dunia?
– Imamat 22:32-33 “Janganlah melanggar kekudusan nama-Ku yang kudus, supaya Aku dikuduskan di tengah-tengah orang Israel, sebab Akulah TUHAN yang menguduskan kamu, yang membawa kamu keluar dari tanah Mesir, supaya Aku menjadi Allahmu, Akulah TUHAN.”
Di sini disebut bahwa Allah menghendaki agar Ia disembah oleh umat-Nya.
Masih banyak lagi yang dapat kita pelajari dari Alkitab tentang setiap tujuan karya Allah bagi kita.
Satu hal yang Ia kehendaki ialah agar setiap orang percaya dibentuk menjadi umat yang mengerti tujuannya menjadi umat Allah.

Ungkapan Jagalah dirimu dan jangan berkhianat,
NIV: So guard yourself in your spirit, and do not break faith.= Jagalah dirimu di
dalam roh dan jangan merusak iman.
NLT: So guard your heart; do not be unfaithful to your wife.= Jadi, jagalah hatimu; jangan tidak setia kepada istrimu.
Dari terjemahan ini, berarti ayat ini ditujukan kepada para suami. Konteksnya mendukung perintah ini karena para pemimpin agama dan suami yang menyeleweng.
KJV: therefore take heed to your spirit, that ye deal not treacherously.= Karena itu, utamakanlah kehidupan rohmu, sehingga kamu tidak berubah setia.

Jadi, dari beberapa terjemahan ini, saya melihat bahwa seseorang dapat hidup dengan benar dalam keluarganya apabila ia memiliki kehidupan roh yang baik. Roh yang baik dan benar akan terbentuk pada saat seseorang hidup mengasihi Tuhan dan dipimpin Roh. Masalahnya, sering sekali suami istri menganggap remeh masalah hidup dipimpin oleh Roh.

Sering sekali mereka bergantung kepada pengalaman, kekuatan diri dan kekayaan.
Ini bahaya sekali. Mengapa? Karena jangan lupa bahwa setiap orang memiliki isi otak,
perasaan yang berbeda-beda. Yang membuat semuanya dapat disatukan ialah karena adanya
Roh yang sama untuk memberi kesabaran, menerima tanpa menuntut. Jadi, untuk membuat
kehidupan rumah tangga sehat, maka kehidupan dalam Tuhan itu perlu dipertahankan.
Saya membaca sebuah buku (tulisan Stanton L dan Brenna B Jones) yang menulis tentang Kunci Rumah Tangga Kristen menuju kebahagiaan:
– Persatuan rohani
– Kepuasan seksual
– Komunikasi yang lancar.
Jadi, kehidupan rohani inilah yang menjadi kunci kehidupan. Ini tidak dimiliki oleh pasangan yang hidup duniawi, melainkan hanya orang-orang yang telah dibaharui rohnya oleh Tuhan.
Sudahkah mengutamakan kehidupan rohani/ dalam Roh?

Mengapa Tuhan menekankan hal ini kepada umat Israel?
1. Mereka sudah menajiskan perjanjian (10-11)
Ayat ini menegaskan bahwa umat Israel memiliki satu bapa. Ada yang menafsirkan bahwa ini menunjuk kepada Adam sebagai nenek moyang semua manusia. Tetapi ada juga yang menafsirkan bahwa satu bapa ini menunjuk kepada Abraham sebagai bapa dari umat Israel sebagai bangsa pilihan. Nah, saya lebih condong di sini. Umat Israel diciptakan bukan hanya secara fisik tetapi sebagai umat yang istimewa/unik dan pilihan di mata Tuhan (Yes 43:1). Karena itu, dalam urusan pasangan ini, Tuhan sudah memberi aturan kepada mereka dalam Ulangan 7:3 Janganlah juga engkau kawin-mengawin dengan mereka:
anakmu perempuan janganlah kauberikan kepada anak laki-laki mereka, ataupun
anak perempuan mereka jangan kauambil bagi anakmu laki-laki.
Ini adalah ketetapan yang mutlak bagi mereka. Tetapi di Maleakhi 2:10 ini dtulis bahwa mereka menajiskan perjanjian nenek moyang.
Dijelaskan bahwa umat Israel ini telah melanggar perjanjian perkawinan di dalam Keluaran 34:15. Penafsir: “praktek-praktek korup adalah buah dari prinsip-prinsip yang korup.”
Penghinaan umat Israel terhadap perkawinan, sebagai buah dari ketidaktaatan kepada Firman Tuhan.
Karena itu dalam ayat 11 dituliskan Yehuda berkhianat, dan perbuatan keji dilakukan di Israel.
NIV: Judah has broken faith= Yehuda telah rusak imannya.
Penafsir: Istilah berkhianat dan perbuatan keji ini dalam kata Ibrani ditulis
sebagai sesuatu yang sangat pantang dan yang olehnya seseorang melakukan dosa yang dapat menyebabkan ketersinggungan yang luarbiasa.
Dari sini kita melihat bahwa kehidupan dalam Tuhan menjadi dasar berbagai aspek kehidupan.
Penerapan:
Kita sebagai umat perjanjian Allah, mari kita menghidupi perjanjianNya dengan benar. Apakah sudah kita menerapkan prinsip perjanjian ini dalam kehidupan rumah tangga dan kesaksian iman kita?

2. Mereka telah tidak setia kepada pasangan (13-14)
Dalam ayat 13 ini dijelaskan bahwa umat Israel dan Yehuda menghadap Allah dengan airmata, tangisan, rintihan tetapi Allah justru tidak menghiraukannya.
Mengapa? Karena ada dosa dalam hati mereka yaitu kepura-puraan. Tuhan tidak mau kepura-puraan.
Walau mereka sudah menyadari bahwa penyebab ini adalah sikap mereka tetapi mereka pura-pura bertanya kembali: “oleh karena apa?” (ayat 14).
Inilah kebiasaan manusia. Berupaya untuk tidak terlihat kesalahannya sehingga berbagai cara dilakukan:
– pura-pura sedih
– pura-pura bertanya.
Tetapi perhatikan bahwa ayat 14 menulis “Oleh sebab Tuhan telah menjadi saksi antara engkau dan istri masa mudamu yang kepadanya engkau tidak setia.
Penerapan:
– Apakah kita tidak dalam kepura-puraan?
– Apakah kita tidak sedang menjalani sikap mendua terhadap Tuhan?
Ada prinsip di sini bahwa pasangan itu adalah teman seperjanjian dengan Allah.
Dalam Bahasa Inggrisnya ditulis dengan kata covenant; bukan promise.
Mengapa?
Karena pernikahan itu adalah sebuah yang sakral di mata Tuhan. Sebab kata sakral itu hanya dipakai untuk urusan yang bersifat kudus/ Sakral di mata Tuhan. Sudahkah kita sadar bahwa pernikahan kita ini adalah sebuah lembaga di mana pendirinya adalah Tuhan sendiri.
Karena itu, berserahlah kepada Tuhan dalam menjalaninya. Nilai seperti ini dimengerti oleh setiap umat Israel tetapi mereka tidak setia menjaganya.
Penafsir: “Ketika suami bersatu dengan istrinya, ia meninggalkan ayah dan ibunya. Mengapa? Karena ia akan bersatu dengan istrinya. Mereka bukan menjadi kembar (berdua) tetapi bersatu (Matius 19:6)-satu daging.”
Saya mengutip pengalaman Hana dalam 1 Samuel 2:1-3. Buah pengalaman rohaninya dengan Tuhan adalah membentuk sikap praktis sehari-hari.
Ia mengakui sifat-sifat Allah (ayat 1-2). Akhirnya ia meresponi dengan sikap praktis di ayat 3.
Walaupun ia begitu menderita batin menghadapi suami dan Penina, namun ia benar-benar menerapkan prinsip hidup takut akan Tuhan menjadi kekuatannya.
Penerapan:
– Bagi yang sudah menikah: hargailah pasangan dengan mengingat bahwa dia adalah teman seperjanjian kita.
– Bagi yang belum menikah: Belajarlah agar tidak menukar hal yang sacral ini dengan kebutuhan sesaat. Pernikahan itu adalah kudus dan perlu menggumuli secara serius di hadapan Tuhan.

3. Menyusahi Tuhan dengan perkataan (17)
Perkataan umat Israel bukan memberi kesukaan tetapi mereka menyusahkan Tuhan.
Kata “menyusahkan” ini diartikan dengan memuakkan dan membosankan. Jadi, benar-benar perbuatan yang tidak baik. Yesaya 43:24b: “Tetapi engkau memberati Aku dengan dosamu, engkau menyusahi Aku dengan kesalahanmu.”
Penerapan:
Bagaimana kata-kata kita kepada Tuhan? Sudahkah mendatangkan pujian dan kesukaan bagi Dia? Jika kita berusaha untuk menyukakan hati Tuhan maka kita dapat menyukakan pasangan kita, dan sebaliknya.
Agar dapat menyukakan hati Tuhan, kita perlu pengenalan yang benar akan Dia. Umat Allah perlu merendahkan hati untuk dapat memahami dirinya di hadapan Tuhan sehingga ia dapat menyukakan Tuhan.
Paling tidak, ada 4 aspek yang perlu kita gumuli di hadapan Tuhan agar kita dapat hidup dan menuju kepada kehendak-Nya:
a. Karakter
Karakter manusia yang sudah jatuh dalam dosa, cenderung memanifestasikan dosa. seperti suka marah-marah, suka mengeluh, suka putus asa, malas. Ini karakter seseorang. Mengapa menjadi karakter? Karena itu sudah menjadi kebiasaan sehari-hari.
Orang yang sudah ditebus Kristus perlahan-lahan, karakternya akan diubah menuju kesempurnaan. Menguasai kemarahan, keluhan perlahan-lahan diubah untuk mau belajar bersukacita, putus asa diubah menjadi memiliki semangat dan kekuatan, kemalasan diubah menjadi kerajinan.
b. Kekudusan.
Dalam bahasa aslinya mengandung arti dipisahkan (Imamat 20:24).
Yang dipisahkan adalah cara berpikirnya. Firman berkuasa atas pikiran dan pikiran berkuasa atas emosi. Akhirnya seluruh tingkah laku menjadi berbeda dari orang dunia karena firman sudah memisahkan seluruh dirinya agar dipersembahkan bagi Tuhan.
c. Kematangan/kedewasaan.
Paulus menulis di 1 Korintus 13: 11 “Ketika aku kanak-kanak aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir-pikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.”
Jelas ada perbedaan antara orang dewasa dan anak-anak. Respon terhadap masalah, anak-anak cuma bisa menangis, orang dewasa mungkin bisa menangis tetapi tidak berhenti di sana, dia pasti mencari jalan keluar dan menyelesaikan setiap masalah dengan pertolongan Tuhan.
Dalam kesempurnaan yang Tuhan tuju dalam diri anak-anak-Nya, maka anak-anak ini bukan lagi menjadi problem maker, tapi problem solver.
Dunia ini sudah banyak masalah, jangan menambah masalah, tapi selesaikan masalah dengan dewasa dan dengan pertolongan Tuhan.
d. Kasih.
Dasar panggilan kita adalah kasih. Kekuatan hubungan ini juga terus ditopang oleh kasih. Inilah kekuatan iman dan panggilan kita menjadi umat Tuhan.
Dari ke-4 aspek ini, saya juga sedang belajar agar wujud kekristenan ini menjadi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Kita butuh pertolongan Tuhan.

Syukurilah setiap pasangan yang telah Tuhan karuniakan. Sadarilah bahwa kita adalah pasangan yang dikaruniakan Tuhan. Apapun kekurangan pasangan, itu adalah tanggung jawab kita bersama. Yang Tuhan inginkan ialah bertanggungjawablah kepadaNya.
Marilah kita mewujudnyatakan buah pengenalan kita dengan Allah. Jangan menyia-nyiakan karya pengampunan dan karunia-Nya.
Jagalah dirimu dan Jangan berkhianat.